Kebanyakan orang...lebih suka bicara dibanding mendengarkan. berbicara memang lebih memuaskan karena kita bisa melepaskan sesuatu yang sering nangkring di otak kita. sedang mendengar adalah pekerjaan yang menuntut kita pasif...konsentrasi...diam....menatap yang berbicara...dan harus sabar dari keinginan kita menyela bila setuju atau tidak setuju apa yang dibicarakan lawan bicara.
Mendengarkan....adalah pekerjaan yang sangat sulit dan perlu dilatih. tanpa latihan maka menjadi pendengar yang baik sangat sulit.
Berbicara akan memunculkan rasa...penting seseorang karena mengungkapkan ekspresi, harga diri, dan perasaan seseorang.
saat kita mampu mendengarkan, maka diri kita akan lebih mampu memandang segala sesuatu lebih luas dan bijaksana. dengan mendengarkan kita bisa tau keseluruhan maksud dan apa yang melatarbelakangi seseorang membicarakan sesuatu.
Terkadang seseorang berbicara hanya membutuhkan untuk didengarkan tanpa menginginkan umpan balik. terkadang juga ingin mendapat tanggapan/pendapat, terkadang juga menginginkan masukan yang lebih banyak dari orang yang mendengarkan.
Dengan menjadi pendengar yang baik, kita akan disenangi banyak orang.
selamat mendengarkan...
Selasa, 24 Maret 2009
Sabtu, 14 Maret 2009
Caleg, Pertaruhan Hidup dan Mati
Sebentar lagi pemilihan Caleg akan diselenggarakan di seluruh penjuru Indonesia. Saat ini disetiap sisi kota dihiasi gambar para caleg dan slogan-slogan (janji kapanye) untuk menarik simpati para pemilih. Kampanye juga sebentar lagi terjadi. berarti pengerahan massa juga akan menjadi pemandangan umum di mata masyarakat.
Perubahan pada pemilu kali ini dibanding pemilu sebelumnya adalah ditetapkannya oleh Makamah Konstitusi bahwa Caleg yang akan duduk di kursi dewan adalah mereka yang memperoleh suara yang terbanyak. bukan lagi ditentukan oleh nomor urut. perubahan ini akan sangat mendasar akibatnya terhadap biaya pencaleg-an seseorang.
PERLU BIAYA BESAR
Kalau sebelumnya para caleg tidak perlu terlalu pusing karena biaya kampanye ditanggung oleh partai, maka sekarang para caleg harus siap-siap mempersiapkan dana besar untuk memperkenalkan dirinya didepan konstituennya. sebagian besar para caleg belum dikenal oleh masyarakat didaerah pemilihannya. maka untuk membuat agar dikenal biaya besarpun harus siap dikeluarkan.
sebagai gambaran saja, kita mungkin sering menyaksikan pemilihan langsung kepala desa. meskipun selalu digembar-gemborkan agar pemilihan menghindari politik uang namun kenyataan dilapangan hampir setiap calon pasti mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Mulai biaya atribut kampanye, biaya pengerahan massa, biaya reklame dimedia massa, biaya menjamu para konstituen (biaya ini akan dikeluarkan saat para caleg menyatakan mencalonkan diri sampai pemilihan terjadi). semua biaya ini akan dikeluarkan secara pribadi oleh para caleg.
saya tidak bisa membayangkan, kalau biaya untuk pencalonan kepala desa saja yang jumlah konstituennya mungkin sekitar ribuan orang saja bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juga rupiah. berapa biaya yang dikeluarkan oleh para caleg DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR dengan jumlah kontituen lebih dari ratusan ribu atau bahkan jutaan?
HIDUP ATAU MATI
kalau seorang calon kepala desa, untuk membiayai pencalonannya bisa menguras seluruh tabungannya, menjual assetnya seperti rumah, sawah dan lainnya, bahkan berhutang sana-sini dengan janji kalau menang akan dikembalikan dengan bunganya. Dari sini terlihat, secara finansial maka calon pada saat mencalonkan diri dalam kondisi ini sangat rawan / titik kritis. apabila dia menang, maka selamatlah dia (hidup). ada kesempatan untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya. bila sabar dan orangnya jujur maka dia akan menerima kompensasi sebagai kepala desa sesuai haknya. namun kebanyakan karena begitu banyak modal telah dikeluarkan dalam waktu singkat, maka tidak ada jalan lain dalam waktu singkat juga dia harus mengembalikan harta dan hutangnya. tidak ada jalan lain yang cepat kecuali korupsi.
Namun jika calon tersebut kalah, maka habislah dia(mati). semua hartanya ludes dan para penagih hutang siap mendatanginya setiap saat. maka dalam kondisi ini, tekanan ekonomi dan kejiwaan akan dirasakan.
Saya tidak membayangkan apabila saat ini kondisi caleg-caleg kita persis seperti kondisi pencalonan kepala desa tersebut. maka dapat dipastikan, pasca pemilu akan banyak orang stress /mengalami gangguan jiwa (untuk yang kalah) dan juga banyak para koruptor baru yang siap makan apa yang sebenarnya menjadi hak masyarakat. (untuk yang menang/ terpilih).
Bagi para caleg, maka saat ini adalah saat dimana anda dalam posisi kritis. masa pertaruhan hidup dan mati anda kedepan. saran saya, para caleg supaya sadar dengan kemampuan ekonomi dan kekuatannya dalam menyikapi pencalonan caleg kali ini. buatlah neraca agar kondisi keuangan tetap diusahakan positip agar anda dapat meneruskan kehidupan anda dimasa mendatang. jangan jor-joran dalam mencari/menumpuk hutang hanya demi mengejar kursi dewan. Juga jangan terpancing dengan janji-janji tim pemenangan pemilu anda bahwa dengan menggelontorkan dana untuk program kampanye di suatu daerah anda akan memperoleh suara sekian persen dari yang dibutuhkan. calon yang bijak adalah yang mengenal kemampuan diri sendiri.
Perubahan pada pemilu kali ini dibanding pemilu sebelumnya adalah ditetapkannya oleh Makamah Konstitusi bahwa Caleg yang akan duduk di kursi dewan adalah mereka yang memperoleh suara yang terbanyak. bukan lagi ditentukan oleh nomor urut. perubahan ini akan sangat mendasar akibatnya terhadap biaya pencaleg-an seseorang.
PERLU BIAYA BESAR
Kalau sebelumnya para caleg tidak perlu terlalu pusing karena biaya kampanye ditanggung oleh partai, maka sekarang para caleg harus siap-siap mempersiapkan dana besar untuk memperkenalkan dirinya didepan konstituennya. sebagian besar para caleg belum dikenal oleh masyarakat didaerah pemilihannya. maka untuk membuat agar dikenal biaya besarpun harus siap dikeluarkan.
sebagai gambaran saja, kita mungkin sering menyaksikan pemilihan langsung kepala desa. meskipun selalu digembar-gemborkan agar pemilihan menghindari politik uang namun kenyataan dilapangan hampir setiap calon pasti mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Mulai biaya atribut kampanye, biaya pengerahan massa, biaya reklame dimedia massa, biaya menjamu para konstituen (biaya ini akan dikeluarkan saat para caleg menyatakan mencalonkan diri sampai pemilihan terjadi). semua biaya ini akan dikeluarkan secara pribadi oleh para caleg.
saya tidak bisa membayangkan, kalau biaya untuk pencalonan kepala desa saja yang jumlah konstituennya mungkin sekitar ribuan orang saja bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juga rupiah. berapa biaya yang dikeluarkan oleh para caleg DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR dengan jumlah kontituen lebih dari ratusan ribu atau bahkan jutaan?
HIDUP ATAU MATI
kalau seorang calon kepala desa, untuk membiayai pencalonannya bisa menguras seluruh tabungannya, menjual assetnya seperti rumah, sawah dan lainnya, bahkan berhutang sana-sini dengan janji kalau menang akan dikembalikan dengan bunganya. Dari sini terlihat, secara finansial maka calon pada saat mencalonkan diri dalam kondisi ini sangat rawan / titik kritis. apabila dia menang, maka selamatlah dia (hidup). ada kesempatan untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya. bila sabar dan orangnya jujur maka dia akan menerima kompensasi sebagai kepala desa sesuai haknya. namun kebanyakan karena begitu banyak modal telah dikeluarkan dalam waktu singkat, maka tidak ada jalan lain dalam waktu singkat juga dia harus mengembalikan harta dan hutangnya. tidak ada jalan lain yang cepat kecuali korupsi.
Namun jika calon tersebut kalah, maka habislah dia(mati). semua hartanya ludes dan para penagih hutang siap mendatanginya setiap saat. maka dalam kondisi ini, tekanan ekonomi dan kejiwaan akan dirasakan.
Saya tidak membayangkan apabila saat ini kondisi caleg-caleg kita persis seperti kondisi pencalonan kepala desa tersebut. maka dapat dipastikan, pasca pemilu akan banyak orang stress /mengalami gangguan jiwa (untuk yang kalah) dan juga banyak para koruptor baru yang siap makan apa yang sebenarnya menjadi hak masyarakat. (untuk yang menang/ terpilih).
Bagi para caleg, maka saat ini adalah saat dimana anda dalam posisi kritis. masa pertaruhan hidup dan mati anda kedepan. saran saya, para caleg supaya sadar dengan kemampuan ekonomi dan kekuatannya dalam menyikapi pencalonan caleg kali ini. buatlah neraca agar kondisi keuangan tetap diusahakan positip agar anda dapat meneruskan kehidupan anda dimasa mendatang. jangan jor-joran dalam mencari/menumpuk hutang hanya demi mengejar kursi dewan. Juga jangan terpancing dengan janji-janji tim pemenangan pemilu anda bahwa dengan menggelontorkan dana untuk program kampanye di suatu daerah anda akan memperoleh suara sekian persen dari yang dibutuhkan. calon yang bijak adalah yang mengenal kemampuan diri sendiri.
Gotong Royong, Dimanakah engkau sekarang?
Dulu, ketika aku masih kecil dan tinggal disebuah kampung yang jauh dari kota. bahkan dapat dikatakan desaku termasuk sangat terisolasi terletak disebuah desa yang bernama Purwokerto sekitar 28 km dari kota Pati Jawa tengah, nilai-nilai gotong royong diantara warga desa sangatlah menonjol. kebersamaan dan gotong royong hampir disemua segi kehidupan. mulai dari membangun rumah, memanen hasil pertanian, membangun jalan, saat warga mengadakan pesta perkawinan, dan lainnya. membangun rumah misalnya, pada hari H pendirian rumah, semua warga terutama laki-laki wakil tiap rumah berkumpul dan bergotong royong mendirikan rumah tanpa bayaran sama sekali. saat memanen hasil pertanian, para wanita bergotong royong secara bergantian membantu memanen hasil pertanian. dan semuanya dilakukan dengan sukarela dan bergotong royong....semuanya itu terjadi saat desaku masih terisolasi. belum ada listrik dan jalanpun belum beraspal. sarana transportasi harus dilalui dg jalan kaki. untuk ke kota kecamatan saja, harus ditempuh jalan kaki sekitar 6 km melalui jalan setapak dan harus melewati hutan lebat. kemudian dilanjutkan naik dokar sekitar 5 km baru sampai kecamatan.
saat itu orang desa hidup secara sederhana, aman dan tentram. anak-anak perempuan setelah lulus SD langsung dikawinkan oleh orang tua masing-masing. anak laki-laki biasanya hidup sebagai penggembala ternak ataupun bertani. hanya sedikit sekali anak-anak yang meneruskan sekolah hingga ke SMP. aku termasuk beruntung karena bisa sekolah SMP yang saat itu satu desaku cuma ada sekitar 3 anak. Tiap hari aku sekolah bersama teman-temanku. berangkat pukul 05.00 pagi.
Para ibu menjual hasil pertanian/kebun kepada para tengkulak yang memang setiap hari datang dengan jalan kaki dari kota kecamatan. pasarpun hanya beberapa saja orang yang datang.
Sekitar 1997, listrik mulai masuk desaku. jalan pun sudah mulai mulus dengan aspal kualitas murah. transportasi mulai lancar. orang banyak berpergian ke kota. sepeda motorpun mulai bersliweran dijalan-jalan desa. pikiran orang desaku mulai berubah. banyak pemuda yang mulai pergi merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta maupun sumatra. saat mereka pulang banyak membawa cerita yang menarik dan keberhasilan merubah hidup. orang mulai berubah. mereka mulai suka beli baju, beli perabot rumah yang bagus-bagus, dll. orang mulai memikirkan kebutuhan mereka sendiri-sendiri.
aku mulai jarang menjumpai orang bergotong royong mendirikan rumah. sebelumnya mereka membuat rumah dari kayu berubah membuat rumah dari tembok sehingga tidak perlu orang banyak namun benar-benar tergantung sama para tukang yang hanya butuh 4 orang. orang-orang mulai mengejar pekerjaan yang setiap hari menghasilkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup yang semakin meningkat karena perubahan gaya hidup. sekarang aku banyak jumpai saat ada orang yang meminta tolong ...yang dimintai tolong terkadang lebih memilih bekerja yang mendapat bayaran daripada membantu tetangga yang hanya meminta tolong. akhirnya mereka hidup secara individualistik. sementara para pemuda yang merantau saat pulang mereka memamerkan gaya hidup modern. Hal ini menambah semangat individualis para pemuda. bila mereka mampu membangun rumah dari tembok, lantai keramik mereka merasa menjadi orang kaya dan akan dianggap berhasil oleh para tetangga.
Gotong royong yang dulu setiap hari aku lihat dan rasakan sekarang nyaris sangat jarang aku melihatnya. orang desa yang hidup sederhana dan pola pikir sederhana mulai sirna dari pandanganku. begitulah kehidupan sekarang. gotong royong sirna digantikan sikap hidup individualis dan kapitalis.
saat itu orang desa hidup secara sederhana, aman dan tentram. anak-anak perempuan setelah lulus SD langsung dikawinkan oleh orang tua masing-masing. anak laki-laki biasanya hidup sebagai penggembala ternak ataupun bertani. hanya sedikit sekali anak-anak yang meneruskan sekolah hingga ke SMP. aku termasuk beruntung karena bisa sekolah SMP yang saat itu satu desaku cuma ada sekitar 3 anak. Tiap hari aku sekolah bersama teman-temanku. berangkat pukul 05.00 pagi.
Para ibu menjual hasil pertanian/kebun kepada para tengkulak yang memang setiap hari datang dengan jalan kaki dari kota kecamatan. pasarpun hanya beberapa saja orang yang datang.
Sekitar 1997, listrik mulai masuk desaku. jalan pun sudah mulai mulus dengan aspal kualitas murah. transportasi mulai lancar. orang banyak berpergian ke kota. sepeda motorpun mulai bersliweran dijalan-jalan desa. pikiran orang desaku mulai berubah. banyak pemuda yang mulai pergi merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta maupun sumatra. saat mereka pulang banyak membawa cerita yang menarik dan keberhasilan merubah hidup. orang mulai berubah. mereka mulai suka beli baju, beli perabot rumah yang bagus-bagus, dll. orang mulai memikirkan kebutuhan mereka sendiri-sendiri.
aku mulai jarang menjumpai orang bergotong royong mendirikan rumah. sebelumnya mereka membuat rumah dari kayu berubah membuat rumah dari tembok sehingga tidak perlu orang banyak namun benar-benar tergantung sama para tukang yang hanya butuh 4 orang. orang-orang mulai mengejar pekerjaan yang setiap hari menghasilkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup yang semakin meningkat karena perubahan gaya hidup. sekarang aku banyak jumpai saat ada orang yang meminta tolong ...yang dimintai tolong terkadang lebih memilih bekerja yang mendapat bayaran daripada membantu tetangga yang hanya meminta tolong. akhirnya mereka hidup secara individualistik. sementara para pemuda yang merantau saat pulang mereka memamerkan gaya hidup modern. Hal ini menambah semangat individualis para pemuda. bila mereka mampu membangun rumah dari tembok, lantai keramik mereka merasa menjadi orang kaya dan akan dianggap berhasil oleh para tetangga.
Gotong royong yang dulu setiap hari aku lihat dan rasakan sekarang nyaris sangat jarang aku melihatnya. orang desa yang hidup sederhana dan pola pikir sederhana mulai sirna dari pandanganku. begitulah kehidupan sekarang. gotong royong sirna digantikan sikap hidup individualis dan kapitalis.
Kamis, 26 Juni 2008
Orang baik masih ada (banyak) bung!!!
Orang baik masih banyak bung!!!
beberapa waktu lalu aku mendapatkan tugas ke luar kota lagi. menjelang weekend karena jaraknya tidak terlalu jauh dari surabaya. maka akudan beberapa teman memutuskan untuk pulang. kami berangkat jam 18:00 menuju ke tempat pemberhentian bus. kami berangkat berempat, 3 cowok dan 1 cewek.sambil menunggu bus patas yang lewat, kamipun berusaha mencari informasi tentang jadwal bus Patas. namun alangkah terkejutnya kami, bahwa saat ini pasca kenaikanBBM, bus patas lebih jam 6 tidak ada lagi. namun kami peroleh informasi juga bahwa biasanya ada beberapa taksi yang lewat ( kembali ke surabaya yang pasti lebih murah, biasanya daripada kosong supir taksi menarik ongkos sesuai tarif Patas. Lumayan kalau beruntung.
lima belas menit lewat namun belum juga ada tanda-tanda taksi lewat. setengah jam kemudian pun belum ada...maka beberapa teman nekat untuk mencari tumpangan mobil plat hitam yang kearah surabaya..satu, dua, tiga, bahkan beberapa kali usaha untuk menyetop mobil yang lewat belum membuahkan hasil.mungkin dalam benak kebanyakan orang, pastilah akan berfikir bila mengangkut tambahan penumpang 4 orang. ditambah badan kita juga lumayan besar-besar. beruntung ada 1 wanita. jadi orang mungkin akanberfikir berbeda,...ditambah lagi pakaian kita yang berpakaian kemeja formal dan celana panjang kerja.
setelah setengah jam lewat, kulihat ada mobil berhenti. mau membeli minum kayaknya, wah plat kendaraanya "W" (wah sidoarjo...pikir kita), dengan semangat salah satu teman kita bertanya...ke pengemudi mobil tersebut. "Pak, mau ke Surabaya ya. boleh menumpang pak. kami berempat. kita mau kok pak iuran bensin". kata temanku berharap."wah, kita gak sampai surabaya mas...tapi sampai tanggulangin mau? jawab bapak pengemudi itu.tanpa pikir panjang kamipun mengiyakan....
Kamipun berempat naik ke mobil Xenia bapak itu. asik....akhirnya dapat juga orang baik yang mau ditumpangi. sorak hatiku dan mungkin juga sorak teman teman karena
sebelumnya aku tak yakin masih ada orang baik di jaman dimana kejahatan ada dimana-mana.
kami berempat dapat sampai kesurabaya dalam waktu yang jauh lebih cepat dibanding naik bus patas sekalipun. hal ini karena bapak driver tadi mengemudinya dengan kecepatan diatas 100 terus.dan bapak tadi juga tidak mau dibayar sepeserpun. kita hanya tau nama bapak tadi adalah Woro...tidak tau nomor telepon dan dimana rumahnya....benar-benar pengalaman yang tidak dapat aku lupakan sampai kapanpun. dijaman yang serba modern dan penuh prasangka pada setiap orang ternyata masih banyak orang yang baik hati...tulus dan jujur.
Bagaimana dengan anda? dapatkan anda dapat berbuat seperti bapak woro tadi???
sekian
beberapa waktu lalu aku mendapatkan tugas ke luar kota lagi. menjelang weekend karena jaraknya tidak terlalu jauh dari surabaya. maka akudan beberapa teman memutuskan untuk pulang. kami berangkat jam 18:00 menuju ke tempat pemberhentian bus. kami berangkat berempat, 3 cowok dan 1 cewek.sambil menunggu bus patas yang lewat, kamipun berusaha mencari informasi tentang jadwal bus Patas. namun alangkah terkejutnya kami, bahwa saat ini pasca kenaikanBBM, bus patas lebih jam 6 tidak ada lagi. namun kami peroleh informasi juga bahwa biasanya ada beberapa taksi yang lewat ( kembali ke surabaya yang pasti lebih murah, biasanya daripada kosong supir taksi menarik ongkos sesuai tarif Patas. Lumayan kalau beruntung.
lima belas menit lewat namun belum juga ada tanda-tanda taksi lewat. setengah jam kemudian pun belum ada...maka beberapa teman nekat untuk mencari tumpangan mobil plat hitam yang kearah surabaya..satu, dua, tiga, bahkan beberapa kali usaha untuk menyetop mobil yang lewat belum membuahkan hasil.mungkin dalam benak kebanyakan orang, pastilah akan berfikir bila mengangkut tambahan penumpang 4 orang. ditambah badan kita juga lumayan besar-besar. beruntung ada 1 wanita. jadi orang mungkin akanberfikir berbeda,...ditambah lagi pakaian kita yang berpakaian kemeja formal dan celana panjang kerja.
setelah setengah jam lewat, kulihat ada mobil berhenti. mau membeli minum kayaknya, wah plat kendaraanya "W" (wah sidoarjo...pikir kita), dengan semangat salah satu teman kita bertanya...ke pengemudi mobil tersebut. "Pak, mau ke Surabaya ya. boleh menumpang pak. kami berempat. kita mau kok pak iuran bensin". kata temanku berharap."wah, kita gak sampai surabaya mas...tapi sampai tanggulangin mau? jawab bapak pengemudi itu.tanpa pikir panjang kamipun mengiyakan....
Kamipun berempat naik ke mobil Xenia bapak itu. asik....akhirnya dapat juga orang baik yang mau ditumpangi. sorak hatiku dan mungkin juga sorak teman teman karena
sebelumnya aku tak yakin masih ada orang baik di jaman dimana kejahatan ada dimana-mana.
kami berempat dapat sampai kesurabaya dalam waktu yang jauh lebih cepat dibanding naik bus patas sekalipun. hal ini karena bapak driver tadi mengemudinya dengan kecepatan diatas 100 terus.dan bapak tadi juga tidak mau dibayar sepeserpun. kita hanya tau nama bapak tadi adalah Woro...tidak tau nomor telepon dan dimana rumahnya....benar-benar pengalaman yang tidak dapat aku lupakan sampai kapanpun. dijaman yang serba modern dan penuh prasangka pada setiap orang ternyata masih banyak orang yang baik hati...tulus dan jujur.
Bagaimana dengan anda? dapatkan anda dapat berbuat seperti bapak woro tadi???
sekian
Rabu, 18 Juni 2008
SUSAHNYA MENCARI MAKANAN HALAL DI NEGERI MUSLIM TERBESAR DIDUNIA
Beberapa tahun terakhir dunia kuliner sangat pesat perkembangannya. sejak acara kuliner mak Nyuss -nya bondan winarno melejit, rasanya sudah lebih dari puluhan, ratusan bahkan ribuan warung, restoran, rumah makan dan sejenisnya menjamur diseluruh negeri kita. terlebih krisis ekonomi menyebabkan orang semakin kreatif dalam mencari uang termasuk membuka wira usaha seperti warung/restoran.
Sesuai profesi saya sebagai auditor yang biasa berkeliling ke wilayah-wilayah di indonesia dan juga seorang muslim, juga tidak terlepas dari yang namanya makan-makan. suatu saat disuatu kota tertentu dijawa timur, saat memasuki sebuah restoran saya menjumpai pemandangan yang mengetuk hati saya. saat itu saya melihat ibu dan anak perempuannya (keduanya berjilbab) makan dengan lahapnya nasi goreng yang tampak lezat. sesaat saya takjub, kemudian melihat menu...seperti biasa menu saya lihat satu-persatu....trus berhenti disuatu menu..oh my god...dimenu itu jelas ada menu yang mengandung babi.....aku kemudian meneliti menu dengan lebih teliti untuk melihat apakah ada tulisan halal atau tidak. dan ternyata tidak ada.
kemudian saya konfirmasi ke tukang masaknya, saat menjawab pertanyaan saya apakah menu makanan yang terdaftar dimenu mengandung (berbahan) babi. sambil tergagab dan iapun menjawab dengan tidak jelas.. "dulu ya mas, sekarang su su su dah tidak kok". mendengar jawabannya dan saat aku konfirmasi ke beberapa temen yang non muslim ternyata makanan yang dimaksud memang berbahan babi.
setelah kejadian itu, sayapun kemudian berpikir...mungkin ibu dan anaknya tersebut atau sebagian warga muslim yang tinggal dikota-kota kecil ataupun sebagian besar kita tidak menyadari bahwa makanan yang dimakan ternyata mengandung babi.(baca:haram). dan setelah mengamati ke banyak kota di indonesia memang hampir sebagian besar (mungkin lebih 90% ) tidak mencantumkan label halal. terutama pada restoran-restoran besar dikota besar yang sangat ramai pengunjung juga tidak mencantumkan label halal ataupun mengandung babi.
hanya sebagian kecil (prosentase dibawah 10%) yang jelas-jelas mencantumkan kata " mengandung babi".
kita sebagai muslim dinegeri muslim terbesar didunia, sebenarnya berharap bisa nyaman untuk makan direstoran/rumah makan diseluruh indonesia. Dalam hal ini peran pemerintah diharapkan bisa jauh meningkat untuk mengawasi halal atau tidaknya produk-produk disetiap restoran. caranya mungkin dapat ditetapkan kebijakan bagi semua warung, rumah makan, maupun restoran untuk mencantumkan HALAL atau MENGANDUNG BABI (Hal haram lainnya) disetiap produknya seperti halnya kewajiban Stasiun TV untuk mencantumkan label BO(Bimbingan orang tua) & DW (dewasa).
Saya lebih menghargai dan hormat warung-warung/restoran yang dengan jelas mencantumkan Label HALAL atau Mengandung Babi disetiap Papan Namanya ataupun disetiap Daftar menunya. Jadi disetiap warung/restoran mempunyai pangsa pasar tersendiri. Nah, tugasnya MUI adalah menguji kehalalan disetiap restoran yang ada. kemudian mengesahkan label Halal.
nah, menyadari fakta bahwa sebagian besar warung/restoran yang ada belum jelas apakah produknya halal atau tidak maka tips berikut semoga bermanfaat :
1. kenali daerah dimana anda akan makan. sebagian besar warung kecilpun jika anda di bali misalnya maka harus bertanya ke penjualnya. karena sebagian besar menjual makanan yang berbahan babi ( babi bagi umat hindu boleh dimakan).
2. Tanyakan langsung ke penjualnya. ( jadi kalau anda memutuskan untuk tetap makan disuatu restoran namun ragu lebih baik bertanya. biasanya jika penjual menjawabnya tegas...".tidak ada " dan anda puas/yakin dengan jawaban. bismilah makanlah disana.
3. kenali nama produknya...jika mengandung kata Bak....makan lebih baik dihindari (cari restoran yang lain).
4. biasalah makan dengan orang lain, yang mungkin punya tingkat sensitifitas terhadap rasa babi dan sebagainya yang tidak halal.
demikian semoga tips ini bermanfaat. dan bagi anda yang biasa makan di luar rumah...mungkin sering merasa bimbang saat makan direstoran2 yang tidak mencantumkan label halal. yah....inilah ironinya kita hidup dinegeri muslim terbesar didunia, namun harus selalu hati-hati dan waspada saat akan makan.
Sesuai profesi saya sebagai auditor yang biasa berkeliling ke wilayah-wilayah di indonesia dan juga seorang muslim, juga tidak terlepas dari yang namanya makan-makan. suatu saat disuatu kota tertentu dijawa timur, saat memasuki sebuah restoran saya menjumpai pemandangan yang mengetuk hati saya. saat itu saya melihat ibu dan anak perempuannya (keduanya berjilbab) makan dengan lahapnya nasi goreng yang tampak lezat. sesaat saya takjub, kemudian melihat menu...seperti biasa menu saya lihat satu-persatu....trus berhenti disuatu menu..oh my god...dimenu itu jelas ada menu yang mengandung babi.....aku kemudian meneliti menu dengan lebih teliti untuk melihat apakah ada tulisan halal atau tidak. dan ternyata tidak ada.
kemudian saya konfirmasi ke tukang masaknya, saat menjawab pertanyaan saya apakah menu makanan yang terdaftar dimenu mengandung (berbahan) babi. sambil tergagab dan iapun menjawab dengan tidak jelas.. "dulu ya mas, sekarang su su su dah tidak kok". mendengar jawabannya dan saat aku konfirmasi ke beberapa temen yang non muslim ternyata makanan yang dimaksud memang berbahan babi.
setelah kejadian itu, sayapun kemudian berpikir...mungkin ibu dan anaknya tersebut atau sebagian warga muslim yang tinggal dikota-kota kecil ataupun sebagian besar kita tidak menyadari bahwa makanan yang dimakan ternyata mengandung babi.(baca:haram). dan setelah mengamati ke banyak kota di indonesia memang hampir sebagian besar (mungkin lebih 90% ) tidak mencantumkan label halal. terutama pada restoran-restoran besar dikota besar yang sangat ramai pengunjung juga tidak mencantumkan label halal ataupun mengandung babi.
hanya sebagian kecil (prosentase dibawah 10%) yang jelas-jelas mencantumkan kata " mengandung babi".
kita sebagai muslim dinegeri muslim terbesar didunia, sebenarnya berharap bisa nyaman untuk makan direstoran/rumah makan diseluruh indonesia. Dalam hal ini peran pemerintah diharapkan bisa jauh meningkat untuk mengawasi halal atau tidaknya produk-produk disetiap restoran. caranya mungkin dapat ditetapkan kebijakan bagi semua warung, rumah makan, maupun restoran untuk mencantumkan HALAL atau MENGANDUNG BABI (Hal haram lainnya) disetiap produknya seperti halnya kewajiban Stasiun TV untuk mencantumkan label BO(Bimbingan orang tua) & DW (dewasa).
Saya lebih menghargai dan hormat warung-warung/restoran yang dengan jelas mencantumkan Label HALAL atau Mengandung Babi disetiap Papan Namanya ataupun disetiap Daftar menunya. Jadi disetiap warung/restoran mempunyai pangsa pasar tersendiri. Nah, tugasnya MUI adalah menguji kehalalan disetiap restoran yang ada. kemudian mengesahkan label Halal.
nah, menyadari fakta bahwa sebagian besar warung/restoran yang ada belum jelas apakah produknya halal atau tidak maka tips berikut semoga bermanfaat :
1. kenali daerah dimana anda akan makan. sebagian besar warung kecilpun jika anda di bali misalnya maka harus bertanya ke penjualnya. karena sebagian besar menjual makanan yang berbahan babi ( babi bagi umat hindu boleh dimakan).
2. Tanyakan langsung ke penjualnya. ( jadi kalau anda memutuskan untuk tetap makan disuatu restoran namun ragu lebih baik bertanya. biasanya jika penjual menjawabnya tegas...".tidak ada " dan anda puas/yakin dengan jawaban. bismilah makanlah disana.
3. kenali nama produknya...jika mengandung kata Bak....makan lebih baik dihindari (cari restoran yang lain).
4. biasalah makan dengan orang lain, yang mungkin punya tingkat sensitifitas terhadap rasa babi dan sebagainya yang tidak halal.
demikian semoga tips ini bermanfaat. dan bagi anda yang biasa makan di luar rumah...mungkin sering merasa bimbang saat makan direstoran2 yang tidak mencantumkan label halal. yah....inilah ironinya kita hidup dinegeri muslim terbesar didunia, namun harus selalu hati-hati dan waspada saat akan makan.
Kamis, 12 Juni 2008
AJINING DIRI SOKO LATHI AJINING ROGO SOKO BUSONO
Bagi anda yang kebetulan terlahir sebagai orang jawa mungkin pernah mendengar kata-kata diatas atau bahkan sudah hafal diluar kepala berikut arti atau makna sebenarnya. namun bagi anda pembaca yang belum tahu artinya, maka berikut akan coba saya jelaskan secara singkat, dan semoga bermanfaat.
Ajining diri soko lathi dapat diterjemahkan secara bebas adalah harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya (lathi = lidah). penilaian baik atau buruk adalah berkaitan dengan jiwa sosial kita. orang lain akan menilai kita tergantung bagaimana kita bertutur kata. jika kita sering bicara kasar, maka orang lain akan mengenal kita sebagai orang kasar, sebaliknya orang dpt mengenal kita sbg orang halus,lembut tidak berpendidikan,bodoh dan lainnya. jadi betapa pentingnya dan besar pengaruh ucapan kita thd kehidupan kita.
Sekarang kita bahas, ajining rogo soko busana (nilai penampilan seseorang tergantung dari pakaian). maksudnya adalah pakaian seseorang dapat menunjukkan status orang dimata orang lain. orang dapat dilihat sebagai orang yang rajin, malas, jorok dilihat dari penampilan orang. pernahkan anda melihat teman anda yang setiap pergi ke kantor selalu berpakaian kusut (terkesan tidak pernah disetrika), maka orang disekitarnya melihatnya sebagai kurang rajin/malas. bahkan secara tidak sadar pakaian dimasyarakat kita sudah langsung dapat menimbulkan persepsi seseorang terhadap kita. melihat orang pakaian compang-camping = pengemis/peminta2, seseorang yang berkemeja rapi dan berdasi = orang kerja kantoran/bergaji tinggi. Jadi sekarang terserah anda maunya seperti apa anda dipandang orang lain. semuanya tergantung kita. nilai anda, anda sendiri yang menciptakan dengan berpedoman prinsip ajining diri soko lathi ajining rogo busono.
Ajining diri soko lathi dapat diterjemahkan secara bebas adalah harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya (lathi = lidah). penilaian baik atau buruk adalah berkaitan dengan jiwa sosial kita. orang lain akan menilai kita tergantung bagaimana kita bertutur kata. jika kita sering bicara kasar, maka orang lain akan mengenal kita sebagai orang kasar, sebaliknya orang dpt mengenal kita sbg orang halus,lembut tidak berpendidikan,bodoh dan lainnya. jadi betapa pentingnya dan besar pengaruh ucapan kita thd kehidupan kita.
Sekarang kita bahas, ajining rogo soko busana (nilai penampilan seseorang tergantung dari pakaian). maksudnya adalah pakaian seseorang dapat menunjukkan status orang dimata orang lain. orang dapat dilihat sebagai orang yang rajin, malas, jorok dilihat dari penampilan orang. pernahkan anda melihat teman anda yang setiap pergi ke kantor selalu berpakaian kusut (terkesan tidak pernah disetrika), maka orang disekitarnya melihatnya sebagai kurang rajin/malas. bahkan secara tidak sadar pakaian dimasyarakat kita sudah langsung dapat menimbulkan persepsi seseorang terhadap kita. melihat orang pakaian compang-camping = pengemis/peminta2, seseorang yang berkemeja rapi dan berdasi = orang kerja kantoran/bergaji tinggi. Jadi sekarang terserah anda maunya seperti apa anda dipandang orang lain. semuanya tergantung kita. nilai anda, anda sendiri yang menciptakan dengan berpedoman prinsip ajining diri soko lathi ajining rogo busono.
Langganan:
Postingan (Atom)